Benarkah Ganti Santan Dengan Susu Lebih Sehat? Menurut Dokter

Jumat, 13 Februari 2026 | 08:54:18 WIB
Benarkah Ganti Santan Dengan Susu Lebih Sehat? Menurut Dokter

JAKARTA - Perdebatan soal santan dan susu kerap muncul setiap kali seseorang mulai lebih sadar pada pola makan. Di meja makan keluarga, di dapur saat memasak gulai, hingga dalam obrolan soal diet, mengganti santan dengan susu sering disebut sebagai langkah yang lebih sehat. 

Alasannya sederhana: santan dianggap tinggi lemak, sementara susu dinilai lebih ringan dan bergizi. Namun benarkah sesederhana itu?

Pandangan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat. Pilihan antara santan dan susu tidak bisa dilepaskan dari kandungan gizinya serta kondisi kesehatan masing-masing individu. 

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata menekankan bahwa keduanya memiliki karakteristik berbeda, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan mana yang lebih baik untuk semua orang.

Berikut penjelasan lengkapnya.

Kandungan Lemak Dan Dampaknya Pada Kesehatan

Santan berasal dari kelapa tua yang secara alami mengandung lemak jenuh cukup tinggi. Lemak jenuh inilah yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah. Ketika kadar LDL meningkat dan tidak terkontrol, risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah atau aterosklerosis ikut bertambah.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan jantung. Selain itu, santan kental juga menyumbang kalori dalam jumlah besar. Jika dikonsumsi berlebihan, kalori tinggi ini berisiko meningkatkan berat badan.

"Santan yang terlalu kental tentu tidak baik untuk kesehatan dan juga karena mengandung banyak kalori, membuat kita menjadi gemuk," kata Johanes.

Artinya, persoalan utama bukan semata santannya, melainkan jumlah dan kekentalan yang dikonsumsi. Santan dalam porsi wajar dan tidak terlalu pekat tentu berbeda dampaknya dibandingkan santan kental yang digunakan secara berlebihan dalam masakan sehari-hari.

Keunggulan Susu Dari Sisi Kalsium Dan Protein

Meski sama-sama berasal dari sumber alami, santan belum tentu lebih unggul dibandingkan susu dalam hal kandungan gizi tertentu. Dari sisi kalsium, susu sapi memiliki kadar yang jauh lebih tinggi.

"Kita tahu kandungan susu sapi yang tinggi kalsium itu per gelasnya mengandung 500 mg kalsium. Kebutuhan kalsium wanita dewasa itu sekitar 1.200 mg kalsium per hari," jelasnya.

Kalsium berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang dan gigi, terutama bagi perempuan dewasa yang memiliki kebutuhan relatif tinggi. Selain itu, susu sapi juga mengandung protein lebih tinggi dibandingkan santan. Protein dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki jaringan dan menjaga massa otot.

Karena itu, bagi individu yang tidak memiliki intoleransi laktosa, konsumsi susu dinilai lebih menguntungkan dari sisi pemenuhan gizi. Dalam konteks ini, susu dapat menjadi pilihan yang lebih tepat bila tujuan utamanya adalah meningkatkan asupan kalsium dan protein.

Intoleransi Laktosa Dan Efek Samping Konsumsi Susu

Namun, tidak semua orang cocok mengonsumsi susu. Banyak masyarakat Asia mengalami intoleransi laktosa, yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan enzim untuk memecah gula laktosa di dalam usus. Dalam situasi ini, susu justru dapat menimbulkan keluhan.

"Dengan akibat kalau orang itu minum susu sapi, maka gula laktosanya tidak tercerna dengan baik, sehingga gula laktosa ini akan dibuang. Dan di usus dia akan menarik air dan difermentasi oleh bakteri, sehingga timbul keluhan-keluhan seperti kembung, banyak gas, kadang-kadang diare juga," kata Johanes.

Gejala seperti perut kembung, banyak gas, hingga diare tentu mengganggu kenyamanan. Bagi kelompok dengan intoleransi laktosa, mengganti santan dengan susu bukanlah solusi yang tepat. Justru santan memiliki keunggulan karena bebas laktosa, sehingga tidak memicu reaksi serupa.

Di sinilah pentingnya memahami kondisi tubuh masing-masing sebelum memutuskan perubahan pola makan. Apa yang sehat bagi satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.

Bijak Mengonsumsi Santan Maupun Susu

Johanes menyarankan agar konsumsi santan tetap dibatasi, baik dari segi jumlah maupun kekentalannya. Santan masih boleh dikonsumsi, terutama sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia, tetapi tidak berlebihan.

Ia mencontohkan konsumsi kolak saat Ramadhan. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak menghabiskan seluruh kuah kolak karena mengandung gula dan santan dalam jumlah tinggi.

"Kalau kita hirup semua kuah dari kolak tersebut, tentunya akan menambah risiko untuk munculnya obesitas," kata Johanes.

Hal yang sama berlaku pada susu. Meski memiliki kandungan kalsium dan protein yang baik, konsumsi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan. Tidak perlu berlebihan hanya karena dianggap lebih sehat.

Pada akhirnya, mengganti santan dengan susu tidak selalu lebih sehat untuk semua orang. Pilihan terbaik tetap bergantung pada toleransi terhadap laktosa, kebutuhan gizi, kondisi kolesterol, serta frekuensi dan jumlah konsumsi. Baik santan maupun susu dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang jika dikonsumsi secara bijak.

Terkini